WELCOME TO SEKOLAH DASAR NEGERI SEMPUR KIDUL KOTA BOGOR HAK CIPTA DILINDUNGI OLEH UNDANG - UNDANG
Photobucket

Selasa, 31 Januari 2012


REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU - Lebih dari seratusan penderita jerawat setiap minggunya mendatangi dan mengikuti 'terapi lintah' di salah satu klinik di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau.
"Saya sudah empat kali menjalani 'terapi lintah' di sini. Harapannya, pasti ingin jerawat ini cepat hilang dari wajah," kata Nur Asyiah, (28), yang ditemui di 'klinik tradisional' khusus 'terapi lintah' milik Slamet Riyadi di Jalan Hangtuah, Pekanbaru, Riau, Jumat (27/1).
Dia menuturkan, rata-rata pasien (kebanyakan wanita, Red) ke sini, memang sangat berharap perobatan alternatif ini menjadi solusi membebaskan mereka dari bintik-bintik merah yang menempel pada wajah.
Nur Asyiah juga mengaku, telah lebih dua tahun merasa kebingungan untuk 'menghapus' jerawatnya, sebelum akhirnya memilih ber-'terapi lintah' berasama 'Pak De', panggilan sehari-hari Slamet Riyadi. "Ternyata, setelah terapi di sini, syukur jerawat saya mulai berkurang," ungkapnya.
Nur Asyiah merupakan satu dari ratusan pasien 'Pak De' yang mengeluhkan kondisi wajah bertabur jerawat. Setiap harinya, pria berkacamata dengan kumis tebal ini mengungkapkan juga, selalu didatangi pasien dengan keluhan demikian, bahkan beberapa ada yang menderita kanker.
"Kalau pasien jerawat, itu ada banyak sekali. Mereka berobat tiga sampai lima kali. Dalam seminggu itu diperkirakan ada lebih seratus orang," ujarnya.
Lintah Juga Sembuhkan Kaker
'Pak De' mengatakan, terhadap para penderita jerawat, dirinya hanya membutuhkan dua sampai tiga lintah satu kali terapi. Lintah-lintah tersebut, menurutnya, ditempelkan persis di bagian titik wajah yang terdapat jerawat.
"Lintah yang ditempelkan tersebut akan menyedot darah kotor penyebab jerawat. Penyembuhan tentunya dilakukan secara bertahap dan tidak bisa sekali sembuh," ujarnya.
Klinik alternatif khusus 'terapi lintah' ini dibuka 'Pak De' setiap hari, sekitar pukul 08.00 hingga 11.00 WIB. Kemudian di hari sore, jam 13.00 sampai 17.00 WIB.
Namun bagi pasien penderita penyakit kronis, seperti kanker, patah tulang, diabetes dan lainnya, 'Pak De' memberikan kesenggangan waktu khusus. "Yakni pada malam hari sekitar pukul 20.00 hingga 23.00 WIB," kata Slamet Riyadi.

Senin, 30 Januari 2012


TRIBUNNEWS.COM, HAIFA - Seorang bayi laki-laki yang berusia 18 bulan (1,6 tahun) menggigit kepala ular yang masuk ke kamarnya sampai putus.
Saat ibunya menemukan anaknya itu di pagi hari, si bocah sedang mengunyah bangkai ular tersebut.
Kabar unik ini dimuat di portal berita Ynet News, Kamis (26/1/2012). Anak tersebut tertidur di kamar orangtuanya semalaman. Dia rupanya bangun lebih dulu daripada orangtuanya di pagi hari, dan kembali ke kamarnya sendiri.
Saat ia masuk kamar, ia melihat seekor ular sepanjang 35 sentimeter sedang melata di dalam kamarnya. Mungkin mengira itu mainan baru, bocah tersebut langsung mengambil ular tersebut dan menggigitnya di bagian kepala. Untungnya, ular tersebut tidak menggigit balik.
Anak tersebut langsung dilarikan ke sebuah rumah sakit di kota Haifa. Dokter tidak menemukan satu pun luka gigitan ular di anak itu. (tribuntimur/tribunnews.comnetwork)

Selasa, 10 Januari 2012


Liputan6.com, Denpasar: Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Senin (9/1), mulai menyidangkan kasus penjambretan uang Rp 1.000 dengan terdakwa DW. Selain orangtua DW, sidang juga dihadiri Seto Mulyadi atau Kak Seto, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak.
Sebelum sidang dimulai, Komnas Perlindungan Anak mengajukan protes lantaran DW yang masih berusia 15 tahun dicampur dengan terdakwa dewasa di sel. Komnas mendesak pelajar kelas satu SMP di Denpasar ini ditahan di ruang terpisah.
Kepada pengacaranya dan Komnas Perlindungan Anak, DW mengaku terpaksa menjambret dompet seseorang yang ternyata hanya berisi uang Rp 1.000. Perbuatan yang dilakukan pada 27 Maret 2011 itu lantaran terdakwa disuruh seseorang bernama Anom. Sebelumnya, Anom menuduh DW menghilangkan sepatunya dan meminta ganti rugi. Atas perbuatannya itu, terdakwa dituntut hukuman tujuh bulan penjara.
Otong Iswanto, ayah DW, prihatin atas pelakuan terhadap anaknya yang amat berbeda dengan LM, remaja Australia. Sejak ditahan dan persidangan, LM yang disidang karena kedapatan membawa 6,3 gram ganja, ditahan di ruang tahanan khusus dengan pengawalan khusus pula sebelum akhirnya divonis bebas.
Remaja yang diseret ke pengadilan karena pidana ringan bukan hanya DW. Sebelumnya, AAL, remaja 15 tahun diseret ke Pengadilan Negeri Palu, Sulawesi Tengah. Ia didakwa mencuri sandal milik seorang polisi.
Hakim memvonis AAL bersalah, namun tidak dijatuhi hukuman. Hakim memerintahkan agar AAL dikembalikan kepada orangtuanya. Kasus sandal ini memicu keprihatinan berbagai kalangan terkait kriminalisasi anak dan memunculkan aksi solidaritas yang luas [baca: AAL Divonis Bersalah, Pengacara Langsung Banding].(BOG)

REPUBLIKA.CO.ID,  Anda memiliki kebiasaan banyak minum ketika sedang makan? Sepertinya Anda harus segera mengubah kebiasaan tersebut. Sebab, meneguk air ketika makan ternyata dapat menghambat pencernaan di lambung.

Konselor mikrobiotik dari India, Shonali Sabherwal, mengatakan, ketika makan bukanlah waktu yang tepat untuk memuaskan rasa dahaga. "Orang-orang tidak tahu betapa minum air saat makan cukup mempersulit pencernaan mereka," ujar Sabherwal seperti dikutip Times of India.
Penelitian menunjukkan bahwa minum sedikit air selama makan tidak menjadi perhatian. Namun, minum segelas atau dua gelas dapat mengganggu pencernaan. Para peneliti menemukan bahwa yang terbaik adalah minum air sebelum makan dan dua jam sesudahnya. Hal ini membantu dalam penyerapan nutrisi.
Sabherwal mengatakan bahwa minum air ketika makan dapat mengencerkan konsentrasi asam lambung (HCl). Untuk mencerna makanan, tubuh memerlukan HCl dengan konsentrasi tertentu. Namun, kerena minum banyak air, konsentrasi HCl berkurang. Akibatnya, hanya sedikit makanan yang bisa dicerna oleh tubuh. Hal ini, jika dibiarkan terus bisa menimbulkan berbagai penyakit.
Asam lambung, selain membantu pencernaan juga berfungsi sebagai anti bakteri. Jika lambung sudah tidak bekerja optimal, akan dapat mempengaruhi kerja organ pencernaan lainnya menjadi lebih berat sehingga menyebabkan ketidakseimbangan metabolisme tubuh.
Agar tak merasa haus ketika makan, Sabherwal menghimbau agar tak terlalu banyak makan makanan yang asin.  "Pastikan makanan Anda tidak terlalu asin karena  akan semakin membuat  haus," kata dia. Agar pencernaan tetap berjalan baik meskipun tanpa dibantu oleh air, ia menyarankan agar mengunyah pelan-pelan. Saat mengunyah, mulut mengeluarkan enzim yang membantu pencernaan makanan sehingga tugas lambung dalam mencerna makanan menjadi lebih ringan.

Rabu, 04 Januari 2012


Pekanbaru (ANTARA) - Buaya sepanjang lebih lima meter dan berbobot tidak kurang dari 400 kilogram dengan perut diduga berisi jasad Rio Candra (14), warga Desa Sungai Belah, Kecamatan Kuala Indragiri, Indragiri Hilir, Riau, ditangkap dan dibunuh warga setempat. 
"Buaya raksasa ini ditangkap sekitar jam 18.30 WIB, Senin (2/1) lalu. Setelah ditangkap, buaya ini kemudian dibunuh warga," kata Camat Kuala Indragiri, Kabupaten Indragiri Hilir, Muhammad Syafullah kepada ANTARA di Pekanbaru, Selasa. 
Tidak hanya di bunuh, menurut Camat, warga yang penasaran dengan isi lambung hewan buas itu juga membelah perutnya. 
"Bagaimana nggak terkejut, bayangkan, dalam perut buaya itu ternyata ada jasad seorang bocah yang telah hilang sejak dua hari lalu," katanya. 
Jasad anak manusia itu, kata Syafullah, disaksikan banyak warga dengan kondisi yang mengenaskan, bagian tubuhnya terpotong-potong. 
"Peristiwa ini sempat menggegerkan banyak warga. Anak-anak yang tadinya terbiasa mandi di sungai, sudah mulai dilarang oleh orang tua untuk menghindari terkaman buaya," kata Syafullah. 
Informasi sejumlah warga menyebutkan, Rio Candra (14) sebelumnya sempat dikabarkan hilang sejak Sabtu (31/12) lalu saat mengarungi Sungai Merusi yang membelah Kecamatan Kuala Indragiri bersama bapaknya, Syahrudin untuk mencari kayu bakau. 
Hari itu sekitar pukul 17.00 WIB, Rio yang terbiasa dengan aliran sungai mengalami nasib naas, seekor buaya berukuran raksasa tiba-tiba mendatangi dan dengan beringas menyambar tubuhnya. 
Ayahnya yang berada di sampingnya dikabarkan sempat menyaksikan langsung kejadian tersebut. Buaya tersebut akhirnya menggondol Rio.

Senin, 19 Desember 2011


Bocah Ini Meninggal Tersedak Rambutan

TEMPO Interaktif, : -Siapa yang menyangka rambutan bisa menjadi penyebab kematian seseorang. Tapi peristiwa mengharukan ini terjadi pada Lisa, bocah berusia dua tahun di Desa Siwalan, Sawahan, Nganjuk, Jawa Timur. Anak perempuan pasangan Prapto dan Yanti ini meninggal karena tersedak menelan buah rambutan. "Lisa memang senang rambutan, apalagi sekarang lagi musim," kata Yusuf, kerabat korban, Kamis 15 Desember 2011.
Kebetulan memang daerah itu sedang musim rambutan. Sang anak tengah sendirian di ruang tamu sembari makan rambutan. Yanti sedang masak di dapur. Sedangkan ayahnya berangkat bekerja.
Yanti sesekali menengok anaknya yang asik makan rambutan itu. Mendadak Lisa menangis. Yanti mencoba menenangkan sang anak yang terus memegangi lehernya. Rupanya balita mungil itu menelan sebuah rambutan beserta bijinya sekaligus.
Sigap Yanti melarikan anak itu ke Pusat Kesehatan Masyarakat terdekat. Sang anak terus menangis di sepanjang jalan. Tak sampai ke Pusat Kesehatan Masyarakat, Lisa menghembuskan nafas terakhir.
Polisi yang tiba di lokasi segera memvisum jasad Lisa yang terbaring di Pusat Kesehatan Masyarakat. Namun tak ada tanda penganiayaan berdasarkan pemeriksaan fisiknya. "Ini murni akibat menelan rambutan," kata Kepala Unit Kepolisian Sektor Brebek Ajun Inspektur Satu Supali.

Senin, 05 Desember 2011


Los Angeles (AFP/ANTARA) - Seorang pria AS berusia 39 tahun dijebloskan ke dalam penjara selama enam tahun karena ia dinyatakan terbukti bersalah berusaha menjual bayi perempuannya yang berusia delapan bulan dengan harga 25 dolar AS di luar satu toko Walmart di California, demikian laporan yang beredar Kamis (1/12). 
Patrick Fousek, yang berada di bawah pengaruh obat-obatan saat itu, dijatuhi hukuman pada Rabu (30/11), setelah seorang hakim menolak permohonan pengacaranya bagi hukuman percobaan, kata surat kabar Salinas Californian. 
Fousek dan ibu bayi perempuan tersebut, Samantha Tomasini, ditangkap pada Juni 2010, ketika dua perempuan melaporkan pasangan itu berusaha menjual putri mereka di luar satu toko Walmart di Salinas, sebelah selatan San Francisco. 
"Saya amat, sangat menyesal --saya berharap saya tak menghadapi masalah ini," kata Fousek di pengadilan, demikian laporan surat kabar tersebut, sebagaimana dikutip AFP --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Jumat. "Saya memohon pengadilan agar mempertimbangkan hukuman percobaan, sehingga saya bisa pulang."

Tapi Hakim Monterey County Pamela Butler menjatuhkan dia hukuman maksimal enam tahun penjara karena membahayakan nyawa seorang anak kecil. 
Bayi tersebut sejak itu telah diadopsi, dan itu bukan untuk pertama kali Fousek telah menyerahkan seorang anak kepada orang lain, kata Jaksa Penuntut Umum Rolando Mazariegos. 
Pada 2006, putranya yang saat itu berusia tiga tahun dibawa pergi setelah rumah yang ditinggali Fousek bersama saudara lelakinya didapati berisi barang-barang yang bisa digunakan membuat methamphetamine, kata surat kabar tersebut. 
"Ia kehilangan anak tersebut dan ia masih tak pernah mau mengambil pelajaran," kata Mazariegos sebagaimana dilaporkan harian itu. 
Pengacara Fousek, Michael Pettit, mengatakan Fousek "tak pernah bermaksud menjual bayinya" meskipun ia mengakui itu adalah kasus yang serius. 
Ibu bayi tersebut, Tomasini, tak mengajukan bantahan bahwa ia membahayakan bayinya pada Mei, dan diganjar hukuman percobaan selama empat tahun serta diperintahkan menjalani program rawat-inap untuk mengobati kecanduan obat-obatan.